Apa arti dari standar ispm#15 ?

Kayu sebagai material pengepakan, penyangga, pelindung dan pembungkus barang sering digunakan dalam perdagangan internasional, baik ekspor, impor maupun yang dilalulintaskan antar area. Penggunaan kayu tersebut sering kali di gunakan berulang kali, di daur ulang dan dirakit kembali sebagai fungsi pengepakan termasuk sebagai penyangga forklift (dunnage).

 

Kegunaan fungsi kayu tersebut akhirnya tercampur dengan kayu lainnya baik dari luar negeri maupun kayu lokal sehingga tidak diketahui asal usul kayu tersebut serta sulit sekali diidentifikasi. Dengan demikian status kesehatan tumbuhan menjadi tidak jelas dan menjadi  media pembawa Organisme Pengganggu  Tumbuhan  Karantina (OPTK).  Pembuatan  kayu  sebagai  penyangga  umumnya  menggunakan kayu bekas, atau kayu karet, kayu albasia yang standarnya masih kurang memadai ( Modul Pedoman Registrasi Perusahaan Kemasan Kayu oleh Badan Karantina Pertanian, 2008).

Pengertian standar  ISPM#15   yaitu   standar   yang   berisi   panduan   untuk mengatur material kemasan kayu dalam perdagangan internasonal. Standar pengaturan phytosanitary tersebut bertujuan untuk mengurangi resiko pemasukan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang berasosiasi dengan materi kayu sebagai pembungkus termasuk kayu penyangga (dunnage)   yang   terbuat   dari   bahan   kayu   (coniferous)   atau   bagian tumbuhan  lainnya  (raw  wood)  temasuk  pula  wood  packaging  material yaitu kayu atau produk asal kayu yang digunakan untuk menunjang, melindungi atau pembungkus komoditi termasuk penyangga kayu (dunnage). Tetapi tidak termasuk kemasan kayu yang terbuat dari kayu yang telah diproses sedemikian rupa sehingga bebas dari hama misalnya kayu lapis.

Perlakuan Kemasan Kayu Sesuai Standar ISPM#15

Dalam standar ISPM#15 terdapat beberapa perlakuan kemasan kayu yang nantinya akan menentukan terhadap tanda atau logo marking yang akan diberikan pada kemasan kayu yang akan digunakan, yaitu perlakuan pemanasan kayu (heat treatmet) dan perlakuan fumigasi dengan methyl bromide serta penggunaan bahan baku kayu yang bebas dari kulit kayu (debarked)

 

  1. Perlakuan Panas (Heat Treatment) untuk kode HT

 

Standar perlakuan panas adalah tindakan perlakuan terhadap kemasan kayu dengan menggunakan panas dalam suhu dan waktu tertentu. Suhu minimumnya adalah 56o C selama 30 menit untuk kayu dengan   kadar   air   20%.   Perlakuan   panas   ini   dilakukan   untuk

membebaskan kemasan kayu dari Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Berbagai sumber energi atau proses mungkin tidak cocok untuk mencapai parameter ini. Sebagai contoh, kiln-drying, heat-enabled chemical  pressure impregnation,  microwave  atau  perawatan  lainya, semua dapat dianggap perlakuan panas asalkan memenuhi parameter perlakuan panas yang ditentukan dalam standar ini. Standar perlakuan ini adalah standar dengan pertimbangan bahwa umumnya OPT dapat dibebaskan dan layak secara komersial. Walaupun ada beberapa OPT yang toleran terhadap temperatur tinggi, dan untuk itu perlakuan panas yang lebih tinggi tergantung pada OPT sesuai standar yang ditetapkan oleh National Plant Protection Organization (NPPO) atau Badan Karantina Pertanian.

 

  1. Perlakuan Fumigasi dengan Methyl Bromide untuk kode MB

 

Perlakuan fumigasi dengan gas methyl bromide ini bertujuan untuk memusnahkan OPT yang terdapat pada kemasan kayu dengan tingkat kadar air tertentu. Bahan kemasan kayu yang harus difumigasi dengan methyl  bromide  apabila  kadar  air  pada  kayu  maksimal  30%,  yaitu sesuai dengan jadwal yang mencapai minimum concentration-time product (CT) selama 24 jam. Konsentrasi ini harus dicapai seluruh kayu, termasuk pada intinya, meskipun konsentrasi akan diukur dalam atmosfer  lingkungan.  Suhu  minimum  kayu  dan  suasana  sekitarnya harus tidak kurang dari 10 ° C dan waktu minimum paparan harus tidak kurang dari 24 jam. Pemantauan konsentrasi gas harus dilakukan minimal pada 2, 4 dan 24 jam.

tabel

Pengertian standar ISPM nomor 15

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *